image

Tips Ampuh Hilangkan Penat Si Kecil Belajar Saat New Normal #DiRumahAja 14

Halo, Moms and Dads, bagaimana nih perasaan anak ketika harus belajar di rumah dan menjalani rutinitas dalam kondisi new normal ini? Apakah anak mulai terlihat sering menangis atau marah karena jenuh harus belajar dari rumah atau rewel karena ingin melakukan aktivitas bermain di luar? Memang, kondisi tersebut bisa saja ditemukan.

Kemarin, mereka dapat melakukan kegiatan bermain dengan teman sebaya di sekolah atau rutinitas lain (yang dilakukan di luar rumah), seperti ikut kegiatan ekstrakurikuler dan les tambahan lainnya. Hal itu bisa saja menjadi sangat terbatas atau sama sekali tidak dapat dilakukan. Akibatnya, anak menjadi penat dan dapat saja berpengaruh terhadap perubahan kondisi emosinya.

Berikut ada beberapa tips yang dapat dilakukan oleh Moms and Dads ketika mengatasi penat anak saat belajar di era new normal:

1. Break time: 10-15 menit

Berikan waktu istirahat kepada anak selama 10-15 menit ketika sudah belajar maksimal 30 menit. Bagi anak usia 4-5 tahun, rentang konsentrasinya masih terbatas di 10-15 menit untuk menyelesaikan suatu aktivitas. Sedangkan, untuk anak usia 6-7 tahun, rentang konsentrasinya sekitar 25-30 menit.

Saat istirahat, ajak anak untuk ambil minum atau bergerak melihat pepohonan ke arah luar. Dengan beranjak dari tempat duduknya, anak diberikan kesempatan untuk meregangkan otot-ototnya dan dapat kembali fokus.

2. Modifikasi alat belajar

Alat belajar yang digunakan dapat dimodifikasi menggunakan material lain selain laptop, kertas, atau pulpen. Menggunakan bahan yang menarik dapat mengurangi perasaan jenuh atau penat pada anak. Anak menjadi lebih tertarik dan mudah menangkap informasi ketika cara belajarnya menyenangkan karena bersifat konkret atau praktikal. Misalnya, ketika ingin belajar tentang pengukuran, anak bisa menggunakan tepung atau timbangan makanan agar mengetahui berat dari tepung tersebut. Jadi tidak semata-mata mengerjakan tugas yang bersifat paper- pencil.

3. Aktivitas non-akademis

Sebelum atau setelah waktu belajar, ajak anak melakukan aktivitas lain yang bersifat non-akademis (pengganti kegiatan ekstrakurikuler). Misalnya, berolahraga di halaman rumah atau membantu ayah mencuci mobil. Hal itu sebenarnya, selain mengurangi rasa jenuh di rumah, dapat memberikan stimulasi pada perkembangan sensori anak. Kebutuhan gerak anak dapat tetap terfasilitasi meskipun berada di rumah.

4. Apresiasi dan memahami setiap usaha yang dilakukan anak

Anak dapat saja membutuhkan usaha lebih banyak ketika ia harus belajar depan laptop secara terus menerus dan tidak berinteraksi langsung dengan guru atau teman sekelasnya. Hal tersebut diduga dapat membuat anak tidak nyaman.

Bagi beberapa anak bahkan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk terbiasa belajar secara online di rumah. Oleh karena itu, sebagai orangtua, Moms and Dads dapat memberikan pujian atau pengakuan kepada anak untuk setiap usaha yang telah dilakukan. Misalnya, memberikan pujian ketika anak sudah mampu duduk mengikuti instruksi tugas yang diberikan oleh guru dengan berkata, “huaa Ayah dan Bunda senang sekali melihat Kakak atau Adik mau belajar di depan laptop, terima kasih ya Kak atau Dik, Ayah dan Bunda tahu memang terkadang merasa berbeda ya karena tidak bisa belajar, bertemu langsung dengan guru dan teman”. Dengan begitu anak merasa dipahami dan menjadi lebih termotivasi untuk belajar dari rumah.

5. Fleksibel terhadap ekspektasi atau harapan Moms and Dads

Ketika anak belajar dari rumah, ada hal-hal yang berbeda saat ia belajar langsung di sekolah. Salah satunya, saat belajar di sekolah, anak tidak perlu bermasalah dengan jaringan internet sehingga ia menangkap informasi yang diberikan dengan cukup baik. Di sekolah, anak juga dapat lebih leluasa bertanya kepada guru ketika menemui kesulitan. Dengan kondisi tersebut, Moms and Dads diharapkan dapat lebih fleksibel untuk menetapkan harapan atau tujuan belajar anak saat di rumah. Targetnya tidak hanya pencapaian akademis, tapi bagaimana anak dapat merasa nyaman menerima pembelajaran online di rumah.

6. Koordinasi dengan pihak sekolah

Selain melakukan pendampingan belajar di rumah, Moms and Dads juga dapat menyampaikan perkembangan belajar anak di rumah dengan guru di sekolah. Hal itu dilakukan agar ada koordinasi terkait kondisi anak. Guru dan orangtua bekerja sama dengan bertukar informasi (tentang pencapaian positif atau kendala yang dialami anak) agar anak dapat lebih nyaman dan leluasa saat belajar di rumah.

[Oleh: Psikolog Klinis Anak, Mentari Anakku (Klinik Psikologi dan Pusat Terapi Anak), Nikita Yudharani, M.Psi.,Psikolog]

Shimajiro Club